KONSEP GARAP 88.08 FM

Februari 22, 2009 at 5:23 pm (Uncategorized) (, , , , , , , , , , )

Naskah drama sebelum dipentaskan adalah sesuatu artefak atau sesuatu yang mati. Saya bertanggung jawab menafsirkan dan menghidupkan teks dengan kemampuan visualisasi imajinasi. Naskah 88,08 FM tercipta dan terinspirasi dari kisah nyata, banyak sekali nama tokoh dan peristiwa yang hampir sama dengan kejadian aslinya. Namun membaca naskah drama 88,08 FM adalah membaca sebuah cerita fiksi, nama tokoh, alur, dan peristiwa hanyalah sebuah rekaan belaka sama sekali tidak bisa dibandingkan dan disamakan dengan kejadian aslinya. Sehingga saya mempunyai wewenang untuk mengedit naskah itu sesuai kebutuhan pementasan.
Ada keterkaitan antara teks drama dan pementasan yang menyebabkan pementasan berfungsi sebagai pemberi penafsir yang kedua bagi teks drama. Sebagai sutradara, tugas pertama adalah menafsirkan, menelaah, membedah naskah drama terlebih dahulu. Kemudian memikirkan kemungkinan terdukung tidaknya penafsiran itu menjadi sebuah pementasan.
Konsep pementasan untuk mendukung penafsiran terhadap naskah 88,08 FM adalah menggunakan konsep Realisme. Mengutip dari berbagai sumber, Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah..
Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keberagaman atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan.
Naskah 88,08 FM sangat berpotensi untuk dipentaskan dengan multidisiplin ilmu seni lainnya seperti Seni Rupa, Tari, dan Musik. Kami juga melibatkan UKM (unit Kegiatan Mahasiswa) lainnya untuk membantu proses pementasan ini seperti: UKM ESKA, ASAS, dan BOXER. ESKA membantu memberikan workshop kepenyiaran, ASAS membantu dalam diskusi seputar naskah, dan BOXER membantu pelatihan olah tubuh dan teknik beladiri. Dalam beberapa adegan, tari dan nyanyi sangat menonjol. Selain untuk menambah nilai estetik bisa juga berperan sebagai media kritik lewat parodi lagu dan bahasa tubuh.
Dalam garapan ini saya hanya menggunakan tiga tipe casting, yaitu: Casting to type untuk menentukan pemain berdasarkan kecocokan fisik pemain dengan peran tokoh yang diembannya seperti tokoh Encep Hikayat sebagai preman yang menjadi Bupati., Antitype casting yaitu penentuan pemain dengan mempergunakan teknik kontroversi yaitu peran tokoh yang digunakan kepada pemain bertolak belakang dengan keadaan fisik, seperti tokoh-tokoh parodi dalam naskah ini, Casting to emotional temperament menentukan pemain berdasarkan kecocokan watak dan kepribadian pemain dengan tokoh peran yang akan diperankannya. Pendekatan pemeranan dengan metode psikologi sangat sesuai untuk menganalisa tokoh-tokoh yang diciptakan dalam lakon ini. Tokoh-tokoh dalam drama ini hadir sebagai individu-individu yang ada dalam keseharian dengan karakter penuh kontradiksi.
Konsep artistik adalah modern minimalis. Agar mudah dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas, pementasan 88.08 FM ini sengaja kami buat seringan mungkin. Teknik visual yang menggiring penonton untuk berada dalam studio siaran. Panggung dibagi menjadi tiga ruang yaitu studio radio, ruang tamu, dan depan rumah. Ketiga ruang itu kadang menjadi satu bagian yang utuh dan kadang berubah menjadi tiga ruang yang berbeda. Property dan perangkat artistik dibuat multifungsi seperti manfaat kotak (box) bisa digunakan sebagai kursi, meja, bahkan pintu.

Tulis sebuah Komentar